Gaza Kembali Memanas: Dunia Bereaksi, Korban Berjatuhan

Gaza, Palestina
Foto: Gaza kembali dilanda serangan udara besar-besaran oleh militer Israel pada Selasa (18/3/2025) pagi. (Tangkapan Layar Video AP)

TIMETODAY.ID — Pada Selasa dini hari yang mencekam kembali menyelimuti Gaza, Palestina. Ketegangan yang sempat mereda kembali pecah setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke hampir seluruh wilayah kantong tersebut, Selasa (18/3).

Pelanggaran gencatan senjata ini menambah panjang daftar korban jiwa, dengan sedikitnya 326 orang dilaporkan tewas. Dunia pun bereaksi, menyerukan agar kekerasan ini segera dihentikan.

PBB dan Seruan Kemanusiaan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi salah satu pihak yang lantang mengecam serangan Israel ini.

Advertisement

Kepala badan pengungsi Palestina PBB (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyampaikan keprihatinannya atas tragedi kemanusiaan yang terjadi.

“Pemandangan mengerikan warga sipil tewas di antara mereka anak-anak setelah gelombang pemboman besar-besaran dari Pasukan Israel semalam,” tulisnya di media sosial.

Ia menambahkan bahwa memulai kembali perang hanya akan memperparah penderitaan yang sudah ada.

“Memicu ‘neraka di bumi’ dengan memulai kembali perang hanya akan membawa lebih banyak keputusasaan & penderitaan. Kembali ke gencatan senjata adalah suatu keharusan.”

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut mengungkapkan keterkejutannya atas serangan ini. Ia mendesak agar gencatan senjata segera dipulihkan.

“Sekretaris Jenderal terkejut dengan serangan udara Israel di Gaza. Ia sangat mengimbau agar gencatan senjata dihormati, agar bantuan kemanusiaan tanpa hambatan diberikan kembali, dan agar para sandera yang tersisa dibebaskan tanpa syarat,” ujar juru bicara PBB, Rolando Gomez.

China dan Negara-Negara Eropa Angkat Bicara

China turut menyuarakan kekhawatirannya atas meningkatnya kekerasan di Gaza. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyerukan agar semua pihak menahan diri.

“China sangat prihatin dengan situasi terkini antara Israel dan Palestina,” ujarnya, dikutip dari AFP.

Baca Juga :  10 Langkah Panas Trump yang Guncang Dunia: Dari Perang Dagang hingga Perlawanan Harvard

“Kami menyerukan kepada kedua pihak untuk menghindari tindakan apa pun yang dapat menyebabkan eskalasi situasi, dan mencegah bencana kemanusiaan berskala lebih besar.”

Dari Eropa, Malta dan Belgia mengecam keras serangan ini. Perdana Menteri Malta, Robert Abela, menyebutnya “biadab”, sementara Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, mengkritik “serangan baru Israel dan banyaknya korban jiwa”.

“Saya menyerukan para pihak untuk melaksanakan fase kedua perjanjian, yang harus membuka jalan bagi rekonstruksi dan perdamaian bagi semua,” tulis Prevot di platform X.

Sementara itu, Swiss menekankan bahwa perlindungan warga sipil adalah kewajiban mutlak.

“Swiss menyerukan segera kembali ke #gencatan senjata, pembebasan semua sandera, dan pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan,” tulis Kementerian Luar Negeri Swiss.

Gaza di Ambang Krisis Kesehatan

Kementerian Kesehatan Palestina mengungkapkan bahwa rumah sakit di seluruh Jalur Gaza kini kekurangan pasokan darah. Seruan darurat pun dilayangkan kepada warga Palestina untuk mendonorkan darah guna menolong para korban yang terus berdatangan.

Selain itu, pasokan medis dasar seperti kain kasa dan obat pereda nyeri semakin menipis. Ditambah dengan larangan masuknya bantuan selama lebih dari dua minggu, kondisi fasilitas kesehatan di Gaza semakin kritis.

“Kami menghadapi tantangan yang sangat besar. Tanpa pasokan medis dan bahan bakar, fasilitas medis bisa segera kolaps,” ungkap seorang tenaga medis di Gaza.

Israel Dikecam, Netanyahu Disorot

Serangan Israel juga menewaskan empat pejabat tinggi Gaza, termasuk Kepala Pekerjaan Umum Issam al-Dalis dan Wakil Menteri Kehakiman Ahmed al-Hatta.

Sementara itu, keluarga sandera Israel di Gaza mengecam tindakan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Ibu dari dua tawanan Israel, David dan Ariel Cunio, menyuarakan kekhawatirannya.

Baca Juga :  Jaro Ade Dorong BPK Jabar Lakukan Pendampingan Demi Pertahankan Opini WTP

“Saya memohon mereka untuk menghentikan pertempuran, tetapi mereka tidak mendengarkan,” ujarnya kepada surat kabar Israel, Maariv.

Ia menuding Netanyahu tidak berniat mengembalikan para sandera dan malah memperpanjang konflik demi kepentingan politiknya.

Forum Sandera dan Keluarga Hilang, kelompok utama yang mewakili keluarga tawanan Israel, berencana menggelar aksi protes di Yerusalem.

“Tidak ada yang lebih mendesak dari ini!” seru kelompok itu di platform X.

Reaksi Hamas dan Sikap Dunia

Hamas menuding Israel menggunakan dalih yang lemah untuk kembali melancarkan perang.

“Israel berusaha menyesatkan opini publik dan menciptakan pembenaran palsu untuk melanjutkan genosida terhadap warga sipil tak bersenjata,” ujar perwakilan Hamas.

Dari Moskow, Rusia mengutuk keras serangan Israel dan menyayangkan kembali pecahnya konflik di Gaza.

“Rusia mengutuk keras tindakan apa pun yang menyebabkan kematian warga sipil dan penghancuran infrastruktur sosial,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia.

Di Ankara, Turki menyebut serangan Israel ini sebagai “babak baru dalam kebijakan genosida” terhadap warga Palestina.

Kementerian Luar Negeri Turki pun menyerukan sikap tegas dari komunitas internasional untuk memastikan gencatan senjata ditegakkan.

Masa Depan yang Tidak Menentu

Ketegangan yang kembali meningkat ini menimbulkan kekhawatiran mendalam mengenai masa depan Gaza dan rakyatnya.

Seruan dunia untuk mengakhiri pertumpahan darah semakin lantang, namun akankah suara mereka didengar?

Satu hal yang pasti, di tengah serangan dan kekerasan, warga Gaza masih bertahan, berharap bahwa suatu hari kedamaian akan benar-benar hadir di tanah mereka.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel