Budaya Kerja Ekstrem di Jepang Muncul Lagi: Apa yang Memicu Karoshi?

karoshi
ilustrasi keramaian di shibuya. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Fenomena karoshi atau kematian akibat kerja berlebihan kembali mencuat di Jepang setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi memerintahkan stafnya mengikuti rapat pada pukul 03.00 dini hari, 7 November lalu. Insiden itu memicu perdebatan publik mengenai budaya kerja ekstrem yang masih mengakar kuat di Negeri Sakura.

Takaichi, yang menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang sejak dilantik pada Oktober, dikenal sebagai figur pekerja keras.

Ia juga mendorong penghapusan aturan batas lembur maksimal 45 jam per bulan yang diberlakukan sejak 2016. Menurutnya, pembatasan lembur “justru merugikan pekerja dan pemberi kerja”.

Advertisement

Jepang selama ini dikenal sebagai negara dengan etos kerja tinggi. Namun, di balik kemajuan ekonomi, terdapat sisi kelam berupa karoshi, istilah resmi untuk kematian akibat kerja berlebihan mulai dari serangan jantung, stroke, hingga bunuh diri akibat stres berkepanjangan. Ratusan kasus dilaporkan setiap tahun, meski angka sebenarnya diyakini lebih besar.

Baca Juga :  China Larang Warganya Bepergian ke Jepang Usai Komentar PM Terkait Taiwan

Budaya kerja Jepang dinilai menjadi akar persoalan. Banyak pekerja merasa harus menunjukkan loyalitas dengan bekerja melebihi jam resmi, enggan pulang lebih cepat dari atasan, hingga terbiasa lembur lebih dari 80–100 jam per bulan. Tekanan produktivitas, kompetisi internal, dan rasa takut mengecewakan atasan memperparah kondisi.

Beberapa faktor pemicu karoshi yang paling umum meliputi jam lembur berlebihan, kurangnya waktu istirahat, tekanan mental tinggi, hingga lingkungan kerja yang tidak fleksibel.

Salah satu kasus yang sempat mengguncang publik adalah kematian Matsuri Takahashi pada 2016, karyawan muda perusahaan periklanan Dentsu, yang bunuh diri setelah mencatat lebih dari 100 jam lembur dalam sebulan. Tragedi itu mendorong pemerintah menerapkan batasan lembur nasional.

Sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan angka karoshi, seperti kampanye Premium Friday agar pekerja pulang lebih awal setiap Jumat akhir bulan, penerapan kerja fleksibel, hingga sanksi untuk perusahaan pelanggar. Namun pengamat menilai implementasi di lapangan masih jauh dari ideal, terutama di sektor kompetitif.

Baca Juga :  Hangat dan Akrab, Prabowo Makan Siang Bareng Kaisar Jepang di Istana Kekaisaran

Kasus terbaru yang melibatkan Takaichi kembali memicu kekhawatiran bahwa pola kerja ekstrem masih dianggap wajar bahkan di tingkat pemerintahan. Meski Takaichi memberikan klarifikasi, peristiwa rapat dini hari itu dianggap sebagai contoh nyata bahwa perubahan budaya kerja berjalan sangat lambat.

Pengamat menilai Jepang membutuhkan perubahan lebih mendasar: menggeser cara pandang bahwa produktivitas selalu identik dengan jam kerja panjang, serta menempatkan kesehatan mental sebagai bagian penting dari performa pekerja.

Tanpa perubahan budaya secara menyeluruh, karoshi dikhawatirkan akan tetap membayangi dunia kerja Jepang, terlepas dari berbagai regulasi yang telah diterapkan.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel