TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un membuka peluang membangun hubungan yang lebih baik dengan Amerika Serikat. Namun, sinyal diplomatik tersebut disertai syarat tegas: Korea Selatan tetap dipandang sebagai pihak musuh.
Pernyataan itu disampaikan Kim pada penutupan kongres bersejarah Partai Buruh Korea Utara, forum politik lima tahunan yang menentukan arah kebijakan nasional, mulai dari strategi militer hingga diplomasi luar negeri.
Dalam pidatonya, Kim menegaskan bahwa hubungan dengan Washington hanya mungkin terwujud jika status negaranya sebagai kekuatan nuklir diakui.
“Jika Washington menghormati status negara kita saat ini sebagaimana diatur dalam Konstitusi… dan menarik kebijakan permusuhannya… tidak ada alasan mengapa kita tidak dapat bergaul dengan baik dengan Amerika Serikat,” kata Kim, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) dan dikutip AFP, Kamis (26/2/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan antara Kim dan Presiden AS Donald Trump, yang disebut-sebut dapat terjadi saat kunjungan Trump ke China pada April mendatang.
Seoul Dikecualikan dari Hubungan Diplomatik
Di saat membuka peluang dialog dengan Washington, Kim justru menutup pintu hubungan dengan Korea Selatan. Ia menegaskan negaranya akan “secara permanen mengecualikan” Seoul sebagai sesama bangsa.
“Korea Utara sama sekali tidak berhak berurusan dengan Korea Selatan, entitas yang paling bermusuhan dengan kami,” ujar Kim, seraya menyebut upaya perdamaian Seoul sebagai langkah yang “menipu”.
Sikap tersebut sejalan dengan perubahan konstitusi Korea Utara pada 2024 yang untuk pertama kalinya menetapkan Korea Selatan sebagai “negara musuh”.
Parade Militer dan Pesan Politik Global
Penutupan kongres partai juga ditandai parade militer besar di Pyongyang. Ajang semacam ini kerap digunakan Korea Utara untuk memamerkan kemampuan militernya sekaligus mengirim pesan politik kepada dunia internasional.
Momentum tersebut juga menyoroti dinamika geopolitik terbaru, termasuk meningkatnya kedekatan Pyongyang dengan Rusia serta hubungan strategis dengan China.
Kim sebelumnya bahkan tampil bersama Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam parade militer di Beijing tahun lalu.
Peluang Pertemuan Baru Trump–Kim
Upaya pendekatan Washington terhadap Pyongyang kembali menguat setelah Trump menyatakan dirinya “100 persen” terbuka untuk bertemu Kim. Bahkan, Trump sempat menyebut Korea Utara sebagai “semacam kekuatan nuklir”, sebuah pernyataan yang berbeda dari kebijakan tradisional AS.
Jika pertemuan benar-benar terjadi pada April mendatang, hal itu berpotensi menjadi terobosan diplomatik baru setelah negosiasi nuklir kedua negara menemui jalan buntu sejak kegagalan pertemuan puncak Hanoi pada 2019.
Di tengah ketegangan regional, sinyal terbuka Kim kepada Washington sekaligus penolakan terhadap Seoul memperlihatkan strategi diplomasi Korea Utara yang semakin selektif dalam menentukan kawan dan lawan di panggung geopolitik global.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































