TIMETODAY.ID — Inggris kini tengah memperketat aturan terkait pengisian daya ponsel di mobil listrik asal China, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran tentang potensi ancaman keamanan yang melibatkan teknologi mobil listrik.
Setelah beberapa perusahaan pertahanan besar mengeluarkan kebijakan internal yang melarang pengisian daya ponsel di kendaraan listrik buatan China, isu spionase melalui perangkat ini menjadi perbincangan hangat.
Petinggi dari beberapa perusahaan pertahanan terkemuka di Inggris, termasuk BAE Systems dan Rolls-Royce, dilaporkan telah menerapkan aturan ketat untuk mencegah karyawan menghubungkan ponsel mereka ke mobil listrik China, baik melalui Bluetooth maupun kabel charger. Kebijakan ini terutama berlaku di area sensitif seperti pabrik-pabrik produksi.
Seorang narasumber anonim mengungkapkan, “Dengan penjualan mobil China yang terus meningkat di Inggris, kami harus sangat hati-hati. Kami ingin staf kami tahu langkah-langkah pencegahan yang perlu diambil untuk menghindari risiko yang mungkin muncul,” ujar narasumber tersebut dalam wawancara yang dilansir Dailymail pada Senin (28/4/2025).
Meningkatnya Penjualan Mobil Listrik China di Inggris
Mobil listrik asal China saat ini semakin populer di berbagai negara, termasuk Inggris. Merek-merek seperti BYD, Ora, Geely, dan XPENG kini tersedia di pasar Inggris, dengan beberapa produsen China juga menguasai merek-merek terkenal seperti MG, Volvo, dan Polestar.
Lonjakan penjualan mobil listrik asal China ini didorong oleh tarif tinggi yang dikenakan terhadap mobil-mobil asal China di pasar AS, yang kemudian berimbas pada peningkatan penjualan di Inggris sebagai alternatif yang lebih terjangkau.
Namun, dibalik kesuksesan pasar ini, muncul kekhawatiran serius mengenai potensi spionase. Terkait dengan pengisian daya ponsel di mobil listrik China, banyak pihak menganggap bahwa ponsel dan perangkat yang terhubung dengan kendaraan dapat disusupi untuk tujuan spionase.
Joseph Jarnecki, seorang peneliti siber dan teknologi dari Royal United Services Institute, menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan pertahanan memang menjadi target empuk untuk aksi mata-mata, mengingat catatan sejarah spionase yang melibatkan pihak China.
Tanggapan Pihak XPENG
Di tengah sorotan ini, juru bicara XPENG, produsen mobil listrik asal China yang baru saja meluncurkan SUV listrik G6 di Inggris, dengan tegas membantah tuduhan bahwa mobil mereka dapat digunakan untuk tujuan spionase.
Walaupun Undang-Undang Intelijen Nasional China mewajibkan perusahaan-perusahaan China untuk bekerja sama dengan lembaga intelijen jika diminta, banyak yang berpendapat bahwa spionase melalui mobil tidak akan menjadi langkah yang diambil oleh China, mengingat dampak negatif yang besar terhadap reputasi global mereka.
James Bore, Direktur Bores Group yang bergerak di bidang teknologi siber, juga memberikan pandangannya terkait tuduhan tersebut.
“Secara teori, memang mungkin terjadi serangan melalui perangkat yang terhubung, namun hingga kini tidak ada bukti nyata bahwa ponsel atau perangkat lainnya bisa diretas melalui pengisian daya di mobil listrik China,” ujar Bore.
“Jika benar ada spionase melalui mobil, pasar mobil China di seluruh dunia akan runtuh, dan itu bukan sesuatu yang ingin terjadi,” tambahnya.
Meskipun begitu, ketegangan ini masih mempengaruhi cara pandang banyak pihak terhadap perkembangan industri mobil listrik asal China di pasar internasional.
Dengan kekhawatiran yang terus berkembang, keputusan Inggris untuk memperketat aturan terkait pengisian daya ponsel di mobil listrik China menunjukkan bahwa isu keamanan semakin mendominasi diskusi tentang teknologi dan inovasi global.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































