Arab Saudi dan Amerika Serikat Siap Teken Sejumlah Perjanjian Besar di Washington

Arab Saudi
Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), dengan Presiden Donald Trump (dok. Reuters)

TIMETODAY.ID, Washington DC — Hubungan antara Arab Saudi dan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan dunia. Setelah beberapa tahun penuh dinamika geopolitik, Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), dijadwalkan akan berkunjung ke Washington dan bertemu langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada 18 November mendatang.

Kunjungan ini, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency, Rabu (22/10/2025), pertama kali mencuat lewat sejumlah media besar Amerika Serikat yang mengonfirmasi rencana pertemuan tersebut sehari sebelumnya.

Agenda ini disebut-sebut bukan sekadar kunjungan diplomatik biasa — melainkan langkah penting dalam pembentukan pakta strategis baru antara Riyadh dan Washington.

Advertisement

Membangun Pakta Pertahanan dan Teknologi Baru

Menurut laporan Bloomberg, sumber anonim menyebutkan bahwa pertemuan MBS dan Trump kemungkinan besar akan menghasilkan serangkaian perjanjian besar, mencakup kerja sama di bidang kecerdasan buatan (AI), pertahanan, nuklir sipil, dan perdagangan.

Langkah ini menunjukkan ambisi besar Arab Saudi untuk memperkuat posisi strategisnya di tengah perubahan tatanan global, sekaligus mendiversifikasi kerja samanya di luar sektor energi.

Sementara itu, laporan CBS News menyebutkan bahwa kedua pemimpin juga akan membahas kerja sama militer dan intelijen, dua isu yang selama ini menjadi pilar utama hubungan kedua negara.

Baca Juga :  Rencana Prabowo Teken Kesepakatan Ekonomi dengan Trump Ditunda ke Februari

Baik Gedung Putih maupun otoritas Riyadh hingga kini belum memberikan komentar resmi terkait agenda tersebut, namun berbagai spekulasi politik internasional telah bermunculan. Banyak pihak menilai, pertemuan ini bisa menjadi awal dari babak baru hubungan Saudi–AS yang sempat merenggang beberapa tahun terakhir.

Bayangan Abraham Accords dan Harapan Baru Timur Tengah

Kunjungan ini juga tak lepas dari dinamika politik di Timur Tengah. Dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, Trump mengungkapkan bahwa pejabat Saudi telah menyatakan kesediaan untuk bergabung dalam Perjanjian Abraham — kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara mayoritas Muslim yang ditandatangani saat masa jabatan pertamanya.

“Saya berharap Arab Saudi ikut serta, dan saya berharap negara-negara lainnya juga ikut serta. Saya pikir ketika Arab Saudi ikut serta, semuanya akan ikut serta,”
ujar Trump dalam wawancaranya dengan Fox News, Jumat (17/10).

Pernyataan itu muncul setelah gencatan senjata di Jalur Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober lalu — bagian dari rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan Trump. Kesepakatan ini membuka peluang baru bagi diplomasi Timur Tengah, di tengah konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina.

Baca Juga :  Usai Tragedi Bondi, NSW Bersidang Bahas Aturan Senjata dan Demonstrasi

Tantangan Diplomasi di Tengah Bayang Perang Gaza

Meski demikian, kunjungan MBS ke Washington juga berlangsung di tengah kondisi politik yang sensitif. Hubungan internasional Israel merosot tajam akibat dua tahun perang di Gaza yang menelan banyak korban sipil. Sejumlah negara bahkan menurunkan level hubungan diplomatik atau memutuskan hubungan sepenuhnya dengan Tel Aviv, seiring meningkatnya tuduhan kejahatan perang sistematis.

Sebaliknya, beberapa negara lain termasuk sekutu utama Amerika Serikat di Eropa Barat mulai secara resmi mengakui negara Palestina.

Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, pertemuan antara MBS dan Trump bukan sekadar pertemuan dua pemimpin besar, melainkan juga simbol dari upaya menata ulang peta kekuatan dan aliansi di Timur Tengah.

Apakah kunjungan ini akan menjadi langkah maju menuju stabilitas regional, atau justru membuka babak baru dalam politik kekuasaan global — dunia kini menunggu hasil dari pertemuan di Gedung Putih, November mendatang.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel